Disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Filsafat Ilmu
Disusun oleh:
NEXSRY SINURAT
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kemampuan berbahasa merupakan ciri khusus
pada manusia. Manusia sebagai mahluk sosial, dalam kehidupannya sudah dapat dipastikan
akan berhubungan dengan orang lain atau bermasyarakat yang memiliki kebutuhan sosial.
Kebutuhan sosial adalah kebutuhan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan
dengan orang lain dalam berinteraksi. Contohnya: kita ingin bergabung dan berhubungan
dengan orang lain, kita ingin mengendalikan dan dikendalikan, dan kita ingin mencintai
dan dicintai yang dapat dipenuhi dengan adanya komunikasi.
Ilmu dan bahasa merupakan dua hal yang tidak terpisahkan.
Bahasa berperan penting dalam upaya pengembangan dan penyebarluasan ilmu.
Setiap penelitian ilmiah tidak dapat dilaksanakan tanpa menggunakan bahasa,
matematika dan statistic sebagai sarana
berpikir (Sarwono, 2006: 13). Upaya-upaya penyebarluasan ilmu juga tidak
mungkin dilaksanakan tanpa bahasa sebagai media komunikasi. Setiap forum ilmiah
pasti menggunakan bahasa sebagai sarana utama. Aktivitas-aktivitas yang
diarahkan untuk memahami, mengeksplorasi, dan mendiskusikan konsep-konsep ilmu
tidak dapat diselenggarakan tanpa melibatkan bahasa sebagai sarana
Berdasarkan uraian di atas, maka
penulis tertarik untuk membahas dan memahami ilmu dan bahasa yang akan diuraikan
dalam makalah ini dengan judul “ilmu dan bahasa”.
B.
Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas,
dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.
Apa
itu ilmu?
2.
Apa
itu konsep dari bahasa?
3.
Bagaimana
hubungan antara ilmu dengan bahasa tersebut?
4.
Bagaimana
peran bahasa dalam ilmu?
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
ILMU
Pengertian ilmu yang terdapat dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun
secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk
menerangkan gejala-gejala tertentu. Mulyadhi Kartanegara mengatakan ilmu adalah
any organized knowledge. Ilmu dan sains menurutnya tidak berbeda, terutama
sebelum abad ke-19, tetapi setelah itu sains lebih terbatas pada bidang-bidang
fisik atau inderawi, sedangkan ilmu melampauinya pada bidang-bidang non fisik,
seperti metafisika. Ilmu juga dapat diartikan sebagai suatu sistem dari
berbagai pengetahuan yang masing-masing mengenai suatu pengalaman tertentu yang
disusun melalui sistem tertentu, sehingga menjadi suatu kesatuan.
KARAKTERISTIK
ILMU
ü
Bersifat rasional/masuk akal
ü
Didukung berdasarkan fakta empiris
ü
Disusun secara sistematis
ü
Bersifat obyektif, bukan subyektif
ü
Dapat dikonfrontasikan dengan alternatif
lain
ü
Dapat dikritik
Secara lebih jelas ilmu seperti sapu
lidi, yakni sebagian lidi yang sudah diraut dan dipotong ujung dan pangkalnya
kemudian diikat, sehingga menjadi sapu lidi. Sedangkan pengetahuan adalah
lidi-lidi yang masih berserakan di pohon kelapa, di pasar, dan tempat lainnya
yang belum tersusun dengan baik.
2. BAHASA
a)
Pengertian Bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi yang berupa sistem lambang
bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Bahasa terdiri atas kata-kata atau
kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna, yaitu, hubungan abstrak
antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakili kumpulan
kata atau kosakata itu oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut
urutan abjad,disertai penjelasan artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah
kamus.
Berikut ini beberapa pengertian bahasa menurut para ahli :
a)
Harimurti Kridalaksana (1985:12)
Menyatakan bahwa
bahasa adalah sistem bunyi bermakna yang dipergunakan untuk komunikasi oleh
kelompok manusia.
b)
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2001:88)
Bahasa adalah sistem
bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja
sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
c)
Finoechiaro
(1964:8)
Bahasa adalah sistem
simbol vokal yang arbitrer yang memungkinkan semua orang dalam suatu kebudayaan
tertentu, atau orang lain yang mempelajari sistem kebudayaan itu, berkomunikasi
atau berinteraksi.
d)
Carol (1961:10)
Bahasa merupakan
sistem bunyi atau urutan bunyi vokal yang terstruktur yang digunakan atau dapat
digunakan dalam komunikasi internasional oleh kelompok manusia dan secara
lengkap digunakan untuk mengungkapkan sesuatu, peristiwa, dan proses yang
terdapat di sekitar manusia.
e)
I.G.N. Oka dan
Suparno (1994:3)
Bahasa adalah sistem
lambang bunyi oral yang arbitrer yang digunakan oleh sekelompok manusia
(masyarakat) sebagai alat komunikasi.
f)
Kamus Linguistik (2001:21)
Bahasa adalah sistem
lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota suatu masyarakat
untuk kerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri.
g)
Gorys Keraf (1984:1 dan 1991:2)
Bahasa adalah
komunikasi antar anggota masyarakat, berupa lambang bunyi ujaran yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia.
h)
8. D.P. Tampubolon (1994:3)
Bahasa adalah untuk
memahami pikiran dan perasaan, serta menyatakan pikiran dan perasaan.
i)
H.G. Brown (1987:4)

Bahasa adalah suatu
sistem komunikasi menggunakan bunyi yang diucapkan melalui organ-organ ujaran
dan didengar di antara anggota-anggota masyarakat, serta menggunakan pemrosesan
simbol-simbol vokal dengan makna konvensional secara arbitrer.
Secara sederhana, bahasa dapat
diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati.
Namun, lebih jauh bahasa adalah sistem
bunyi yang arbiter berupa lambang bunyi ujaran yang digunakan manusia untuk
beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan
pikiran, gagasan, konsep atau perasaan.
b) Sifat/Ciri Bahasa
Dalam
buku Chaer (2003:33) sifat atau ciri bahasa adalah:
1)
Bahasa sebagi Sistem
Kata sistem sudah
biasa digunakan dalam kegiatan sehari-hari dengan makna ‘cara’ atau ‘aturan’,
tapi dalam kaitan dengan keilmuan, sistem bararti susunan teratur berpola yang
membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sebagai sebuah
sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan
sistematis, artinya bahasa itu tersusun menurut pola, tidak tersusun secara
acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya bahasa itu bukan
merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub- subsistem atau sistem
bawahan.
2) Bahasa
sebagai Lambang
Kata lambang sering
dipadankan dengan kata simbol dengan pengertian yang sama. Lambang dikaji orang
dengan kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut ilmu Semiotika atau
Semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan
manusia termasuk bahasa. Dalam semiotika atau semiologi dibedakan adanya
beberapa jenis tanda, yaitu antara lain tanda (sign), lambang (simbol), sinyal
(signal), gejala (symptom), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon.
Dengan begitu, bahasa adalah suatu sistem lambang dalam wujud bunyi- bahasa,
bukan dalam wujud lain.
3) Bahasa
adalah Bunyi
Sistem bahasa itu
bisa berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi. Kata bunyi, sering sukar
dibedakan dengan kata suara. Secara teknik, menurut Kridalaksana (1983: 27)
bunyi adalah kesan dari pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga
yang bereaksi karena perubahan- perubahan dalam tekanan udara. Lalu yang
dimaksud dengan bunyi pada bahasa atau yang termasuk lambang bahasa adalah
bunyi- bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Jadi, bunyi yang bukan
dihasilkan oleh alat ucap manusia tidak termasuk bunyi bahasa. Tetapi tidak
semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa, seperti
teriak, bersin, batuk- batuk, dan sebagainya
.
4) Bahasa
itu Bermakna
Bahasa itu adalah
sistem lambang yang berwujud bunyi, maka tentu ada yang dilambangkan. Yang
dilambangkan itu adalah suatu pengertian, konsep, ide atau pikiran yang ingin
disampaikan dalam wujud bunyi. Oleh karena lambang- lambang itu mengacu pada
suatu konsep, ide atau suatu pikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu
mempunyai makna. Lambang- lambang bunyi bahasa yang bermakna itu di dalam
bahasa berupa satuan- satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frase, klausa,
kalimat dan wacana. Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak
mempunyai makna dapat disebut bukan bahasa.
5) Bahasa
itu Arbitrer
Kata arbitrer bisa
diartikan “ sewenang- wenang, berubah- ubah, tidak tetap, mana suka”. Yang
dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara
lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang
dimaksud oleh lambang tersebut.
6) Bahasa
itu Konvensional
Meskipun hubungan
antara lambang bunyi dengan yang dilambangkan bersifat arbitrer, tetapi
penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional.
Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang
tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.
7) Bahasa
itu Produktif
Kata produktif
adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti produktif adalah “ banyak
hasilnya “ atau lebih tepat “ terus- menerus menghasilkan “. Lalu, kalau bahasa
itu dikatakan produktif, maka maksudnya, meskipun unsur- unsur bahasa itu
terbatas, tetapi dengan unsur- unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat
satuan- satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif,
sesuai dengan sistem yamg berlaku dalam bahasa itu.
8) Bahasa
itu Unik
Unik artinya
mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Bahasa
dikatakan unik yang artinya setiap bahasa memiliki ciri khas yang tidak
dimiliki oleh bahasa lain. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa
tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis, artinya jika kita
memberi tekanan pada kata dalam kalimat maka makna kata itu tetap.
9) Bahasa
itu Universal
Bahasa bersifat
universal artinya ada ciri- ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa
yang ada di dunia ini. Ciri- ciri yang universal ini tentunya merupakan unsur
bahasa yang paling umum, yang bisa dikaitkan dengan ciri- ciri atau sifat-
sifat bahasa lain.
10) Bahasa itu
Dinamis
Bahasa adalah satu-
satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak
manusia sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan
bermasyarakat. Karena keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan manusia,
sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat, kegiatan manusia itu tidak
tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah, menjadi
tidak tetap dan tidak statis. Karena itulah bahasa itu disebut dinamis.
11) Bahasa itu
Bervariasi
Anggota masyarakat
suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial
dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama. Anggota masyarakat bahasa
itu ada yang berpndidikan baik ada juga yang tidak, ada yang tinggal di kota
ada yang tinggal di desa, ada orang dewasa dan kanak- kanak. Oleh karena latar
belakang dan lingkungannya tidak sama maka bahasa yang mereka gunakan menjadi
bervariasi atau beragam.
12) Bahasa itu
Manusiawi
Alat komunikasi
manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik
manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia. Alat komunikasi binatang
bersifat terbatas. Dalam arti hanya untuk keperluan hidup “ kebinatangannya”
itu saja. Kalaupun ada binatang yang dapat mengerti dan memahami serta
melakukan perintah manusia dalam bahasa manusia adalah berkat latihan yang
diberikan kepadanya.
c) Fungsi-Fungsi
Bahasa
Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang
digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk
mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk
mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi
tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).
1) Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri
Pada
awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau
perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya. Dalam perkembangannya,
seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan
kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di
sekitarnya. Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk
mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis
mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. Sebenarnya, sebuah karya ilmiah pun
adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam
sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi, kita dapat menulis untuk mengekspresikan
diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu. Sebagai contoh lainnya, tulisan
kita dalam sebuah buku, merupakan hasil ekspresi diri kita. Pada saat kita
menulis, kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. Kita hanya menuangkan isi
hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain
atau tidak. Akan tetapi, pada saat kita menulis surat kepada orang lain, kita
mulai berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan. Kita memilih cara
berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara
berbahasa kita kepada teman kita.
Pada
saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai
bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi
pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya
untuk kepentingannya pribadi. Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri,
bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada
kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang
mendorong ekspresi diri antara lain :
- agar menarik perhatian orang lain terhadap kita,
- keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan
emosi
2)
Bahasa
sebagai Alat Komunikasi
Komunikasi merupakan akibat yang
lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi
diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula
kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita,
serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita.
Sebagai alat
komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan
kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia
mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan
masa depan kita.
Pada saat kita
menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan
tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan
yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin
terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi,
kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca
atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita.
Pada saat kita
menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan
apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh karena itu, seringkali
kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Misalnya, kata makro hanya
dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun kata besar
atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kata griya misalnya
lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumahatau wisma. Dengan kata lain, kata
besar, luas, rumah, wisma, dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih
umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa lain pada
bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas, atau nuansa
tradisional.
Sebagai contoh
lain dalam kehidupan sehari-hari, pentungan yang ada di pos ronda bila
dipukul-pukul akan menghasilkan bunyi, bunyi itulah yang berfungsi sebagai
komunikasi, yang artinya memberitahu warga jika ada bahaya, misalnya saja
kebakaran, ada maling, maupun bencana alam. Contoh lainnya misalnya bunyi
gendang yang memberikan irama kepada penarinya untuk menari, jika gendang itu
tidak dipukul tentu saja tidak akan menghasilkan irama sehingga penari pun
tentu saja tidak akan menari. Dan masih banyak lagi contoh lainnya dalam
kehidupan sehari-hari kita.
Bahasa sebagai
alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat
untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut
pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal usul bangsa dan negara kita,
pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik
sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.
3)
Bahasa
sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial
Bahasa disamping sebagai salah satu
unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman
mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta
belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat hanya dapat
dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi,
lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok
sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan
dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh
efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang
sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya.
Cara berbahasa tertentu selain
berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi dan
adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu,
kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan
kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang
yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan
teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita
hormati.
Pada saat kita mempelajari bahasa
asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa
tersebut. Misalnya, pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu,
kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Bilamanakah kita dalam berbahasa
Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau Anda?
Bagi orang asing, pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan
pergaulan orang Indonesia. Jangan sampai ia menggunakan kata Kamu untuk menyapa
seorang pejabat. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. Jangan
sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut.
Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan
menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.
4)
Bahasa
sebagai Alat Kontrol Sosial
Sebagai alat kontrol sosial, bahasa
sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau
kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan
disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah
salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.
Ceramah agama atau dakwah merupakan
contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi
ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti
diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan
layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan
bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang
memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru,
perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak
dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.
Contoh fungsi bahasa sebagai alat
kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa
marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan
rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk
tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang
dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.
3. HUBUNGAN ILMU DENGAN BAHASA
Bahasa
adalah medium tanpa batas yang membawa segala sesuatu mampu termuat dalam
lapangan pemahaman manusia. Dan bahasa adalah media manusia berpikir secara
abstrak yang memungkinkan objek-objek ditransformasikan menjadi simbol-simbol
abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai
tentang sebuah objek, meskipun objek itu tidak terinderakan saat proses
berpikir itu dilakukan olehnya (Sumantri, 2005).
Terkait dengan hal di atas, dikatakan
sebenarnya manusia dapat berpikir tanpa menggunakan bahasa, tetapi dengan ilmu
menjadikan bahasa memudahkan dalam kemampuan belajar dan mengingat, memecahkan
persoalan dan menarik kesimpulan. Dengan ilmu, bahasa mampu mengabstraksikan
pengalamannya dan mengkomunikasikannya pada orang lain karena bahasa merupakan
sistem lambang yang tidak terbatas yang mampu mengungkapkan segala pemikiran.
Sebagaimana
dikemukakan oleh Kempen (tokoh psikolingustik) yang
menjelaskan studi mengenai manusia sebagai pemakai bahasa yang berhubungan
dengan ilmu, yaitu mengenai sistem-sistem bahasa yang ada pada manusia
yang dapat menjelaskan cara manusia dapat menangkap ide-ide orang lain dan
bagaimana ia dapat mengekspresikan ide-idenya sendiri melalui bahasa, baik
secara tertulis ataupun secara lisan.
Ilmu dan bahasa berhubungan
antara kebutuhan-kebutuhan kita untuk berekspresi dan berkomunikasi dan
benda-benda yang ditawarkan kepada kita melalui bahasa yang kita pelajari.
Manusia hanya akan dapat berkata dan memahami satu dengan lainnya dalam
kata-kata yang terbahasakan. Orientasi inilah yang selanjutnya mempengaruhi
bagaimana manusia berpikir dan berkata.
Contoh dalam perilaku manusia yang
tampak dalam hubungan ilmu dan bahasa adalah perilaku manusia ketika
berbicara dan menulis atau ketika dia memproduksi bahasa, sedangkan
prilaku yang tidak tampak adalah perilaku manusia ketika memahami yang
disimak atau dibaca sehingga menjadi sesuatu yang dimilikinya atau memproses
sesuatu yang akan diucapkan atau ditulisnya.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan
ruang lingkup ilmu dengan bahasa yaitu mulai pemakaian bahasa, pemproduksian
bahasa, pemrosesan bahasa, hubungan antara bahasa dan perilaku manusia, dan
hubungan antara bahasa dengan ilmu.
4. PERAN BAHASA DALAM ILMU
Peran bahasa dalam ilmu erat hubungannya
dengan aspek fungsional bahasa yag telah dijabarkan di atas. Dan lebih spesifik
fungsi bahasa sebagai media berpikir dan media komunikasi.
Sehubungan dengan itu pembahasan tentang permasalahan ini akan disoroti dalam
dua bagian: (1) hubungan bahasa dan pikiran dan (2) bahasa sebagai media
komunikasi.
a)
Hubungan
Bahasa dan Pikiran
Berpikir merupakan aktivitas mental yang
tersembunyi, yang bisa disadari hanya olehorang
yang melakukan aktivitas itu. Miller (1983: 172) mengatakan: “Thinking, by all definitions, is a covert
activity, witnessed only by the person in it.” Lebih jauh, Miller mengatakan
bahwa tindakan berpikir sering digambarkan sebagai kegiatan berbicara pada diri
sendiri (intrapersonal communication), mengamati dan memanipulasi
gambar-gambar. Dengan kemampuan berpikirnya manusia bisa membahas objek dan
peristiwa yang tidak berada atau sedang berlangsung. Dengan kemampuan
berpikrnya manusia bisa membahas obyek dan peristiwa-peristiwa yang tidak berada atau sedang berlangsung
disekitarnya. Kemampuan berpikir juga kadang-kadang dapat digunakan untuk
memecahkan masalah tanpa mencoba berbagai alternatif solusi secara
langsung (nyata).
Peran penting bahasa dalam inovasi ilmu
terungkap jelas dari fungsi bahasa sebagai media berpikir. Melalui kegiatan
berpikir, manusia memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan cara menghimpun dan memanipulasi ilmu dan
pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, dan
membayangkan. Selama melakukan aktivitas berpikir, bahasa berperan
sebagai simbol-simbol yang dibutuhkan untuk memikirkan hal-hal yang abstrak dan
tidak diperoleh melalui penginderaan. Setiap kali seseorang sedang memikirkan
seekor harimau misalnya, dia tidak perlu menghadirkan seekor harimau dihadapannya. Cassirer (dalam Suriasumantri, 2005)mengatakan
manusia adalah Animal symbolicum, mahluk yang menggunakan simbol,
yang secara generik mempunyai cakupan lebih
luas dari homo sapien, mahluk yang berpikir.Tanpa kemampuan menggunakan simbol ini, kemampuan
berpikir secara sistmatis dan teratur tidak dapat dilakukan.
b)
Bahasa
Sebagai Media Komunikasi
Komunikasi merupakan salah satu jantung pengembangan ilmu. Setiap
ilmu dapat berkembang jika temuan-temuan dalam ilmu itu disebarluaskan melalui tindakan berkomunikasi.
Temuan-temuan ini kemudian didiskusikan, diteliti ulang, dikembangkan,
disintesiskan, didikusikan, atau diperberharui oleh ilmuawan lainnya. Hasil-hasil diskusi, sintesis,
penelitian ulang, penerapan dan pengembangan itu kemudian dipublikasikan lagi
untuk ditindaklanjuti oleh ilmuwan lainnya. Selama dalam proses penelitian, perumusan, dan publikasi temuan-temuan tersebut,
bahasa memainkan peransentral, karena segala
aktivitas tersebut menggunakan bahasa sebagai media.
BAB III
KESIMPULAN
Dari hasil pemapaparan diatas dapat disimpulkan
1.
Ilmu
dapat diartikan sebagai suatu sistem dari berbagai pengetahuan yang
masing-masing mengenai suatu pengalaman tertentu yang disusun melalui sistem
tertentu, sehingga menjadi suatu kesatuan.
2.
Secara sederhana, bahasa dapat diartikan
sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati. Namun,
lebih jauh bahasa adalah sistem bunyi
yang arbiter berupa lambang bunyi ujaran yang digunakan manusia untuk beriteraksi
atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran,
gagasan, konsep atau perasaan.
a) Sifat/Ciri Bahasa
§
Bahasa sebagi Sistem
§
Bahasa sebagai Lambang
§
Bahasa adalah Bunyi
§
Bahasa itu Bermakna
§
Bahasa itu Arbitrer
§
Bahasa itu Konvensional
§
Bahasa itu Produktif
§
Bahasa itu Unik
§
Bahasa itu Universal
§
Bahasa itu Dinamis
§
Bahasa itu Bervariasi
§
Bahasa itu Manusiawi
b) Fungsi-Fungsi
Bahasa
Menurut Keraf (1997) fungsi bahasa
adalah
ü Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri
ü Bahasa sebagai Alat Komunikasi
ü Bahasa sebagai Alat Integrasi dan
Adaptasi Sosial
ü Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial
3.
Ilmu dan bahasa berhubungan antara
kebutuhan-kebutuhan kita untuk berekspresi dan berkomunikasi dan benda-benda
yang ditawarkan kepada kita melalui bahasa yang kita pelajari. Manusia hanya
akan dapat berkata dan memahami satu dengan lainnya dalam kata-kata yang
terbahasakan. Orientasi inilah yang selanjutnya mempengaruhi bagaimana manusia
berpikir dan berkata.
4.
Peran bahasa dalam ilmu erat
hubungannya dengan aspek fungsional bahasa sebagai media berpikir dan media komunikassi.
Sehubungan dengan itu pembahasan tentang permasalahan ini akan disoroti dalam
dua bagian: (1) hubungan bahasa dan pikiran dan (2) bahasa sebagai media
komunikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer,
Abdul.1994. Lingustik Umum. Jakarta : Renika Cipta
Keraf,
Gorys. 1994. Komposisi. Jakarta: Nusa Indah
Suriasumantri,
S. Jujun. 2005. Filsafat Ilmu Suatu Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan,
Disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Filsafat Ilmu
Disusun oleh:
NEXSRY SINURAT
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kemampuan berbahasa merupakan ciri khusus
pada manusia. Manusia sebagai mahluk sosial, dalam kehidupannya sudah dapat dipastikan
akan berhubungan dengan orang lain atau bermasyarakat yang memiliki kebutuhan sosial.
Kebutuhan sosial adalah kebutuhan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan
dengan orang lain dalam berinteraksi. Contohnya: kita ingin bergabung dan berhubungan
dengan orang lain, kita ingin mengendalikan dan dikendalikan, dan kita ingin mencintai
dan dicintai yang dapat dipenuhi dengan adanya komunikasi.
Ilmu dan bahasa merupakan dua hal yang tidak terpisahkan.
Bahasa berperan penting dalam upaya pengembangan dan penyebarluasan ilmu.
Setiap penelitian ilmiah tidak dapat dilaksanakan tanpa menggunakan bahasa,
matematika dan statistic sebagai sarana
berpikir (Sarwono, 2006: 13). Upaya-upaya penyebarluasan ilmu juga tidak
mungkin dilaksanakan tanpa bahasa sebagai media komunikasi. Setiap forum ilmiah
pasti menggunakan bahasa sebagai sarana utama. Aktivitas-aktivitas yang
diarahkan untuk memahami, mengeksplorasi, dan mendiskusikan konsep-konsep ilmu
tidak dapat diselenggarakan tanpa melibatkan bahasa sebagai sarana
Berdasarkan uraian di atas, maka
penulis tertarik untuk membahas dan memahami ilmu dan bahasa yang akan diuraikan
dalam makalah ini dengan judul “ilmu dan bahasa”.
B.
Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas,
dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.
Apa
itu ilmu?
2.
Apa
itu konsep dari bahasa?
3.
Bagaimana
hubungan antara ilmu dengan bahasa tersebut?
4.
Bagaimana
peran bahasa dalam ilmu?
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
ILMU
Pengertian ilmu yang terdapat dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun
secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk
menerangkan gejala-gejala tertentu. Mulyadhi Kartanegara mengatakan ilmu adalah
any organized knowledge. Ilmu dan sains menurutnya tidak berbeda, terutama
sebelum abad ke-19, tetapi setelah itu sains lebih terbatas pada bidang-bidang
fisik atau inderawi, sedangkan ilmu melampauinya pada bidang-bidang non fisik,
seperti metafisika. Ilmu juga dapat diartikan sebagai suatu sistem dari
berbagai pengetahuan yang masing-masing mengenai suatu pengalaman tertentu yang
disusun melalui sistem tertentu, sehingga menjadi suatu kesatuan.
KARAKTERISTIK
ILMU
ü
Bersifat rasional/masuk akal
ü
Didukung berdasarkan fakta empiris
ü
Disusun secara sistematis
ü
Bersifat obyektif, bukan subyektif
ü
Dapat dikonfrontasikan dengan alternatif
lain
ü
Dapat dikritik
Secara lebih jelas ilmu seperti sapu
lidi, yakni sebagian lidi yang sudah diraut dan dipotong ujung dan pangkalnya
kemudian diikat, sehingga menjadi sapu lidi. Sedangkan pengetahuan adalah
lidi-lidi yang masih berserakan di pohon kelapa, di pasar, dan tempat lainnya
yang belum tersusun dengan baik.
2. BAHASA
a)
Pengertian Bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi yang berupa sistem lambang
bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Bahasa terdiri atas kata-kata atau
kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna, yaitu, hubungan abstrak
antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakili kumpulan
kata atau kosakata itu oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut
urutan abjad,disertai penjelasan artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah
kamus.
Berikut ini beberapa pengertian bahasa menurut para ahli :
a)
Harimurti Kridalaksana (1985:12)
Menyatakan bahwa
bahasa adalah sistem bunyi bermakna yang dipergunakan untuk komunikasi oleh
kelompok manusia.
b)
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2001:88)
Bahasa adalah sistem
bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja
sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
c)
Finoechiaro
(1964:8)
Bahasa adalah sistem
simbol vokal yang arbitrer yang memungkinkan semua orang dalam suatu kebudayaan
tertentu, atau orang lain yang mempelajari sistem kebudayaan itu, berkomunikasi
atau berinteraksi.
d)
Carol (1961:10)
Bahasa merupakan
sistem bunyi atau urutan bunyi vokal yang terstruktur yang digunakan atau dapat
digunakan dalam komunikasi internasional oleh kelompok manusia dan secara
lengkap digunakan untuk mengungkapkan sesuatu, peristiwa, dan proses yang
terdapat di sekitar manusia.
e)
I.G.N. Oka dan
Suparno (1994:3)
Bahasa adalah sistem
lambang bunyi oral yang arbitrer yang digunakan oleh sekelompok manusia
(masyarakat) sebagai alat komunikasi.
f)
Kamus Linguistik (2001:21)
Bahasa adalah sistem
lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota suatu masyarakat
untuk kerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri.
g)
Gorys Keraf (1984:1 dan 1991:2)
Bahasa adalah
komunikasi antar anggota masyarakat, berupa lambang bunyi ujaran yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia.
h)
8. D.P. Tampubolon (1994:3)
Bahasa adalah untuk
memahami pikiran dan perasaan, serta menyatakan pikiran dan perasaan.
i)
H.G. Brown (1987:4)
Bahasa adalah suatu
sistem komunikasi menggunakan bunyi yang diucapkan melalui organ-organ ujaran
dan didengar di antara anggota-anggota masyarakat, serta menggunakan pemrosesan
simbol-simbol vokal dengan makna konvensional secara arbitrer.
Secara sederhana, bahasa dapat
diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati.
Namun, lebih jauh bahasa adalah sistem
bunyi yang arbiter berupa lambang bunyi ujaran yang digunakan manusia untuk
beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan
pikiran, gagasan, konsep atau perasaan.
b) Sifat/Ciri Bahasa
Dalam
buku Chaer (2003:33) sifat atau ciri bahasa adalah:
1)
Bahasa sebagi Sistem
Kata sistem sudah
biasa digunakan dalam kegiatan sehari-hari dengan makna ‘cara’ atau ‘aturan’,
tapi dalam kaitan dengan keilmuan, sistem bararti susunan teratur berpola yang
membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sebagai sebuah
sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan
sistematis, artinya bahasa itu tersusun menurut pola, tidak tersusun secara
acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya bahasa itu bukan
merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub- subsistem atau sistem
bawahan.
2) Bahasa
sebagai Lambang
Kata lambang sering
dipadankan dengan kata simbol dengan pengertian yang sama. Lambang dikaji orang
dengan kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut ilmu Semiotika atau
Semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan
manusia termasuk bahasa. Dalam semiotika atau semiologi dibedakan adanya
beberapa jenis tanda, yaitu antara lain tanda (sign), lambang (simbol), sinyal
(signal), gejala (symptom), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon.
Dengan begitu, bahasa adalah suatu sistem lambang dalam wujud bunyi- bahasa,
bukan dalam wujud lain.
3) Bahasa
adalah Bunyi
Sistem bahasa itu
bisa berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi. Kata bunyi, sering sukar
dibedakan dengan kata suara. Secara teknik, menurut Kridalaksana (1983: 27)
bunyi adalah kesan dari pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga
yang bereaksi karena perubahan- perubahan dalam tekanan udara. Lalu yang
dimaksud dengan bunyi pada bahasa atau yang termasuk lambang bahasa adalah
bunyi- bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Jadi, bunyi yang bukan
dihasilkan oleh alat ucap manusia tidak termasuk bunyi bahasa. Tetapi tidak
semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa, seperti
teriak, bersin, batuk- batuk, dan sebagainya
.
4) Bahasa
itu Bermakna
Bahasa itu adalah
sistem lambang yang berwujud bunyi, maka tentu ada yang dilambangkan. Yang
dilambangkan itu adalah suatu pengertian, konsep, ide atau pikiran yang ingin
disampaikan dalam wujud bunyi. Oleh karena lambang- lambang itu mengacu pada
suatu konsep, ide atau suatu pikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu
mempunyai makna. Lambang- lambang bunyi bahasa yang bermakna itu di dalam
bahasa berupa satuan- satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frase, klausa,
kalimat dan wacana. Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak
mempunyai makna dapat disebut bukan bahasa.
5) Bahasa
itu Arbitrer
Kata arbitrer bisa
diartikan “ sewenang- wenang, berubah- ubah, tidak tetap, mana suka”. Yang
dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara
lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang
dimaksud oleh lambang tersebut.
6) Bahasa
itu Konvensional
Meskipun hubungan
antara lambang bunyi dengan yang dilambangkan bersifat arbitrer, tetapi
penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional.
Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang
tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.
7) Bahasa
itu Produktif
Kata produktif
adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti produktif adalah “ banyak
hasilnya “ atau lebih tepat “ terus- menerus menghasilkan “. Lalu, kalau bahasa
itu dikatakan produktif, maka maksudnya, meskipun unsur- unsur bahasa itu
terbatas, tetapi dengan unsur- unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat
satuan- satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif,
sesuai dengan sistem yamg berlaku dalam bahasa itu.
8) Bahasa
itu Unik
Unik artinya
mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Bahasa
dikatakan unik yang artinya setiap bahasa memiliki ciri khas yang tidak
dimiliki oleh bahasa lain. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa
tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis, artinya jika kita
memberi tekanan pada kata dalam kalimat maka makna kata itu tetap.
9) Bahasa
itu Universal
Bahasa bersifat
universal artinya ada ciri- ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa
yang ada di dunia ini. Ciri- ciri yang universal ini tentunya merupakan unsur
bahasa yang paling umum, yang bisa dikaitkan dengan ciri- ciri atau sifat-
sifat bahasa lain.
10) Bahasa itu
Dinamis
Bahasa adalah satu-
satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak
manusia sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan
bermasyarakat. Karena keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan manusia,
sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat, kegiatan manusia itu tidak
tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah, menjadi
tidak tetap dan tidak statis. Karena itulah bahasa itu disebut dinamis.
11) Bahasa itu
Bervariasi
Anggota masyarakat
suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial
dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama. Anggota masyarakat bahasa
itu ada yang berpndidikan baik ada juga yang tidak, ada yang tinggal di kota
ada yang tinggal di desa, ada orang dewasa dan kanak- kanak. Oleh karena latar
belakang dan lingkungannya tidak sama maka bahasa yang mereka gunakan menjadi
bervariasi atau beragam.
12) Bahasa itu
Manusiawi
Alat komunikasi
manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik
manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia. Alat komunikasi binatang
bersifat terbatas. Dalam arti hanya untuk keperluan hidup “ kebinatangannya”
itu saja. Kalaupun ada binatang yang dapat mengerti dan memahami serta
melakukan perintah manusia dalam bahasa manusia adalah berkat latihan yang
diberikan kepadanya.
c) Fungsi-Fungsi
Bahasa
Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang
digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk
mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk
mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi
tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).
1) Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri
Pada
awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau
perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya. Dalam perkembangannya,
seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan
kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di
sekitarnya. Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk
mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis
mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. Sebenarnya, sebuah karya ilmiah pun
adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam
sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi, kita dapat menulis untuk mengekspresikan
diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu. Sebagai contoh lainnya, tulisan
kita dalam sebuah buku, merupakan hasil ekspresi diri kita. Pada saat kita
menulis, kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. Kita hanya menuangkan isi
hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain
atau tidak. Akan tetapi, pada saat kita menulis surat kepada orang lain, kita
mulai berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan. Kita memilih cara
berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara
berbahasa kita kepada teman kita.
Pada
saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai
bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi
pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya
untuk kepentingannya pribadi. Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri,
bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada
kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang
mendorong ekspresi diri antara lain :
- agar menarik perhatian orang lain terhadap kita,
- keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan
emosi
2)
Bahasa
sebagai Alat Komunikasi
Komunikasi merupakan akibat yang
lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi
diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula
kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita,
serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita.
Sebagai alat
komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan
kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia
mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan
masa depan kita.
Pada saat kita
menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan
tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan
yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin
terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi,
kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca
atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita.
Pada saat kita
menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan
apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh karena itu, seringkali
kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Misalnya, kata makro hanya
dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun kata besar
atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kata griya misalnya
lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumahatau wisma. Dengan kata lain, kata
besar, luas, rumah, wisma, dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih
umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa lain pada
bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas, atau nuansa
tradisional.
Sebagai contoh
lain dalam kehidupan sehari-hari, pentungan yang ada di pos ronda bila
dipukul-pukul akan menghasilkan bunyi, bunyi itulah yang berfungsi sebagai
komunikasi, yang artinya memberitahu warga jika ada bahaya, misalnya saja
kebakaran, ada maling, maupun bencana alam. Contoh lainnya misalnya bunyi
gendang yang memberikan irama kepada penarinya untuk menari, jika gendang itu
tidak dipukul tentu saja tidak akan menghasilkan irama sehingga penari pun
tentu saja tidak akan menari. Dan masih banyak lagi contoh lainnya dalam
kehidupan sehari-hari kita.
Bahasa sebagai
alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat
untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut
pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal usul bangsa dan negara kita,
pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik
sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.
3)
Bahasa
sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial
Bahasa disamping sebagai salah satu
unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman
mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta
belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat hanya dapat
dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi,
lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok
sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan
dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh
efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang
sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya.
Cara berbahasa tertentu selain
berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi dan
adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu,
kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan
kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang
yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan
teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita
hormati.
Pada saat kita mempelajari bahasa
asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa
tersebut. Misalnya, pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu,
kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Bilamanakah kita dalam berbahasa
Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau Anda?
Bagi orang asing, pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan
pergaulan orang Indonesia. Jangan sampai ia menggunakan kata Kamu untuk menyapa
seorang pejabat. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. Jangan
sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut.
Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan
menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.
4)
Bahasa
sebagai Alat Kontrol Sosial
Sebagai alat kontrol sosial, bahasa
sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau
kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan
disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah
salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.
Ceramah agama atau dakwah merupakan
contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi
ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti
diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan
layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan
bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang
memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru,
perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak
dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.
Contoh fungsi bahasa sebagai alat
kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa
marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan
rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk
tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang
dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.
3. HUBUNGAN ILMU DENGAN BAHASA
Bahasa
adalah medium tanpa batas yang membawa segala sesuatu mampu termuat dalam
lapangan pemahaman manusia. Dan bahasa adalah media manusia berpikir secara
abstrak yang memungkinkan objek-objek ditransformasikan menjadi simbol-simbol
abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai
tentang sebuah objek, meskipun objek itu tidak terinderakan saat proses
berpikir itu dilakukan olehnya (Sumantri, 2005).
Terkait dengan hal di atas, dikatakan
sebenarnya manusia dapat berpikir tanpa menggunakan bahasa, tetapi dengan ilmu
menjadikan bahasa memudahkan dalam kemampuan belajar dan mengingat, memecahkan
persoalan dan menarik kesimpulan. Dengan ilmu, bahasa mampu mengabstraksikan
pengalamannya dan mengkomunikasikannya pada orang lain karena bahasa merupakan
sistem lambang yang tidak terbatas yang mampu mengungkapkan segala pemikiran.
Sebagaimana
dikemukakan oleh Kempen (tokoh psikolingustik) yang
menjelaskan studi mengenai manusia sebagai pemakai bahasa yang berhubungan
dengan ilmu, yaitu mengenai sistem-sistem bahasa yang ada pada manusia
yang dapat menjelaskan cara manusia dapat menangkap ide-ide orang lain dan
bagaimana ia dapat mengekspresikan ide-idenya sendiri melalui bahasa, baik
secara tertulis ataupun secara lisan.
Ilmu dan bahasa berhubungan
antara kebutuhan-kebutuhan kita untuk berekspresi dan berkomunikasi dan
benda-benda yang ditawarkan kepada kita melalui bahasa yang kita pelajari.
Manusia hanya akan dapat berkata dan memahami satu dengan lainnya dalam
kata-kata yang terbahasakan. Orientasi inilah yang selanjutnya mempengaruhi
bagaimana manusia berpikir dan berkata.
Contoh dalam perilaku manusia yang
tampak dalam hubungan ilmu dan bahasa adalah perilaku manusia ketika
berbicara dan menulis atau ketika dia memproduksi bahasa, sedangkan
prilaku yang tidak tampak adalah perilaku manusia ketika memahami yang
disimak atau dibaca sehingga menjadi sesuatu yang dimilikinya atau memproses
sesuatu yang akan diucapkan atau ditulisnya.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan
ruang lingkup ilmu dengan bahasa yaitu mulai pemakaian bahasa, pemproduksian
bahasa, pemrosesan bahasa, hubungan antara bahasa dan perilaku manusia, dan
hubungan antara bahasa dengan ilmu.
4. PERAN BAHASA DALAM ILMU
Peran bahasa dalam ilmu erat hubungannya
dengan aspek fungsional bahasa yag telah dijabarkan di atas. Dan lebih spesifik
fungsi bahasa sebagai media berpikir dan media komunikasi.
Sehubungan dengan itu pembahasan tentang permasalahan ini akan disoroti dalam
dua bagian: (1) hubungan bahasa dan pikiran dan (2) bahasa sebagai media
komunikasi.
a)
Hubungan
Bahasa dan Pikiran
Berpikir merupakan aktivitas mental yang
tersembunyi, yang bisa disadari hanya olehorang
yang melakukan aktivitas itu. Miller (1983: 172) mengatakan: “Thinking, by all definitions, is a covert
activity, witnessed only by the person in it.” Lebih jauh, Miller mengatakan
bahwa tindakan berpikir sering digambarkan sebagai kegiatan berbicara pada diri
sendiri (intrapersonal communication), mengamati dan memanipulasi
gambar-gambar. Dengan kemampuan berpikirnya manusia bisa membahas objek dan
peristiwa yang tidak berada atau sedang berlangsung. Dengan kemampuan
berpikrnya manusia bisa membahas obyek dan peristiwa-peristiwa yang tidak berada atau sedang berlangsung
disekitarnya. Kemampuan berpikir juga kadang-kadang dapat digunakan untuk
memecahkan masalah tanpa mencoba berbagai alternatif solusi secara
langsung (nyata).
Peran penting bahasa dalam inovasi ilmu
terungkap jelas dari fungsi bahasa sebagai media berpikir. Melalui kegiatan
berpikir, manusia memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan cara menghimpun dan memanipulasi ilmu dan
pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, dan
membayangkan. Selama melakukan aktivitas berpikir, bahasa berperan
sebagai simbol-simbol yang dibutuhkan untuk memikirkan hal-hal yang abstrak dan
tidak diperoleh melalui penginderaan. Setiap kali seseorang sedang memikirkan
seekor harimau misalnya, dia tidak perlu menghadirkan seekor harimau dihadapannya. Cassirer (dalam Suriasumantri, 2005)mengatakan
manusia adalah Animal symbolicum, mahluk yang menggunakan simbol,
yang secara generik mempunyai cakupan lebih
luas dari homo sapien, mahluk yang berpikir.Tanpa kemampuan menggunakan simbol ini, kemampuan
berpikir secara sistmatis dan teratur tidak dapat dilakukan.
b)
Bahasa
Sebagai Media Komunikasi
Komunikasi merupakan salah satu jantung pengembangan ilmu. Setiap
ilmu dapat berkembang jika temuan-temuan dalam ilmu itu disebarluaskan melalui tindakan berkomunikasi.
Temuan-temuan ini kemudian didiskusikan, diteliti ulang, dikembangkan,
disintesiskan, didikusikan, atau diperberharui oleh ilmuawan lainnya. Hasil-hasil diskusi, sintesis,
penelitian ulang, penerapan dan pengembangan itu kemudian dipublikasikan lagi
untuk ditindaklanjuti oleh ilmuwan lainnya. Selama dalam proses penelitian, perumusan, dan publikasi temuan-temuan tersebut,
bahasa memainkan peransentral, karena segala
aktivitas tersebut menggunakan bahasa sebagai media.
BAB III
KESIMPULAN
Dari hasil pemapaparan diatas dapat disimpulkan
1.
Ilmu
dapat diartikan sebagai suatu sistem dari berbagai pengetahuan yang
masing-masing mengenai suatu pengalaman tertentu yang disusun melalui sistem
tertentu, sehingga menjadi suatu kesatuan.
2.
Secara sederhana, bahasa dapat diartikan
sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati. Namun,
lebih jauh bahasa adalah sistem bunyi
yang arbiter berupa lambang bunyi ujaran yang digunakan manusia untuk beriteraksi
atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran,
gagasan, konsep atau perasaan.
a) Sifat/Ciri Bahasa
§
Bahasa sebagi Sistem
§
Bahasa sebagai Lambang
§
Bahasa adalah Bunyi
§
Bahasa itu Bermakna
§
Bahasa itu Arbitrer
§
Bahasa itu Konvensional
§
Bahasa itu Produktif
§
Bahasa itu Unik